Aceh Timur antara Banjir dan Hikayat Alam

in #aceh5 months ago (edited)


Sumber

Saat kami sedang bermain tembak-tembakan menggunakan senjata yang terbuat dari bambu dan peluru dari Boh Teumeureu (Untuk Lebih jelasnya lihat gambar). Setelah merasa lelah dengan permainan itu, kami langsung ke sungai untuk berenang. Sungai saat itu masih luas, cukup untuk berenang rama-ramai. Hal ini masih kami rasakan hingga tahun 2004 sebelum Aceh Damai.

image.png
Sumber
Setelah Aceh Damai, kami anak-anak di Gampong Masjid Kec. Nurussalam Kab. Aceh Timur sudah jarang bisa berenang. Karena sungai pada kering dan sempit. Walaupun banjir saat itu masih hanya "agenda tahunan," artinya hanya datang setahun sekali.

Saat datang banjir juga masih ada tanda-tanda alam, jika mau banjir ada hujan atau tidak airnya pasti berwarna kuning di sungai. Jika air sungai sudah berubah berwarna dan tidak bening lagi maka orang yang berada di dekat sungai pasti melakukan pengunsian ketempat yang lebih tinggi. Biasanya ke kebun masing-masing atau ke tetangga yang rumah lebih tinggi.


Sumber

Karena di kebun dulu masih ada rangkang sebagai tempat berteduh saat panas matahari atau hujan. Selain itu juga digunakan sebagai tempat menjaga tanaman dari hama seperti Babi, Monyet dan yang lainnya diwaktu malam hari.

Sekitar tahun 2005 adanya penebang hutan dan merambahnya penanaman sawit. Seperti kita ketahui kelapa sawit adalah tanaman penghisap air. Maka tidak heran mulai saat itu sungai-sungai mulai kering. Kekeringan berkepanjangan itu membuat sungai semakin sempit, tanda-tanda alam sudah tidak tanpak lagi.

Banjir pun saat itu mulai meluas kemana-mana. Dahulu banjir di beberapa desa kini menjadi lintas kecamatan. Sepertinya akan menjadi masalah baru di Aceh Timur soal banjir ini. Tahun 2020 ini saja di Aceh Timur sudah beberapa kali banjir besar.

Banjir saat ini juga semakin parah dari tahun-ketahun. Banjir tanggal 4 Desember kamarin juga sangat parah dan semakin parah pada tanggal 5. Airnya semakin tinnggi dan menyebabkan 2 anak yang ikut terseret banjir di Gampong Masjid. Lia Ramadani (14) adalah yang menjadi korban, karena telat di temukan. Satu lagi temannya berhasil diselamatkan.

Dek Lia Ramadani.jpg

Hampir 10 ribu warga Aceh Timur mengungsi akibat banjir dan hampir 17 ribu fasilitas rusak serta terbawa banjir. Problem lainnya akses ke Aceh Timur sangat susah karena jalan tidak memadai. Maka hampir dipastikan bantuan sosial jarang sampai kesana.

Tapi kali ini kita perlu apresiasi. Kepada semua pihak yang ikut ternjun menyerahkan bantuan dan membantu masyarakat yang berdampak. Semoga banjir ini segera berlalu. Allah tidak menguji kita diluar kemampuan kita. Banjir, longsor dan bencana lainnya, terjadi akibat ulah kita sebagai manusia yang tidak menjaga, melestarikan alam dan lingkungan kita. Saatnya kita berbenah, stop penebangan liar dan penanaman kelapa sawit sebagai sumber penghasilan.

Amriadi Al Masjidiy
(Warga Masyarakat Gampong Masjid yang saat ini tinggal di Jawa Barat)