Catatan dari tanah suci Part III (Persiapan menuju Arafah)

in #busy3 years ago

Assalammualaikum
Minggu tgl 19 Agustus 2018, kami dijadwalkan berangkat ke Arafah, pada giliran ketujuh, sesuai dgn undian keberangkatan dari tujuh kloter yang ada di hotel Wafa Al Ehsan di Misfalah.

Menurut perkiraan itu kira-kira selesai Ashar, tapi pukul 11WAS, saya sudah selesai mandi sunat Ihram, bersiap-siap secepatnya, takut jadwal berubah sewaktu-waktu.

Perkiraan saya benar, menjelang shalat Zuhur, diumumkan bahwa jamaah BTJ-1 Aceh, turun ke lobby untuk bersiap-siap ke Arafah.

Kami turun menunggu bis di lobby hotel, kemudian menaiki bis bersama jamaah dari Medan, setelah semua duduk manis di dalam bis, pembimbing ibadah mengingat kan kami untuk membaca niat haji.

Maka berlakulah larangan ihram bagi kami, diantaranya tidak boleh berkata kotor, tidak boleh berbantah-bantahan, hati harus selalu dijaga. Aku meminta maaf pada suami, mencium tangannya, dan memohon apabila ada sikap ku yang tidak berkenan dihatinya, agar ia bersabar, jgn sampai kami bertengkar, begitupun aku padanya, akan ku maafkan semua supaya ihram terjaga.

Tak sampai satu jam kami tiba di Arafah, bis berhenti di depan maktab 55, kami turun, Arafah penuh dengan tenda , ada juga tanaman di sana, yaitu tanaman hibah dari Sukarno dulu, dalam bahasa Aceh namanya bak bhem atau cawardi, aku tak ingat bahasa Indonesia nya.

Perjuangan di mulai, kami memasuki tenda, Subhanallah panas sangat di dalam, ya Allah kuatkan aku, ku mohon pada Mu, sayangi aku ya Rabb.

Ada empat kipas angin besar di pasang di setiap sudut tenda, tapi belum dinyalakan, jamaah mulai mengeluh kepanasan, petugas-pet ugas berwajah Arab, hilir mudik di luar tenda, aku memberanikan diri memanggil mereka, Mister. Help US, we have problem, mereka mendekati ku, what shoulder i do katanya, ku jelaskan masalahnya, kemudian kipas-kipas dinyalakan, panas berkurang, aku harus menjaga air dan es yang di tangki di depan tenda, supaya jangan kehabisan karena dingin akan berkurang. Jadilah tempat ku istimewa, pas di depan kipas, sebagai penjaga air, melapor sewaktu-waktu, Thank Allah Kau sayang padaku. Malam itu aku tidur dengan nyenyak di atas tanah, yang beralaskan Hambal tanpa kasur tanpa keluhan apa-apa, hanya dingin yang ku rasa dari hembusan uap es dan air.

Aku jadi lupa menceritakan, tentang hujan badai, itu terjadi setelah shalat Maghrib, ketika kami tenggelam dalam zikir dan doa, tiba-tiba angin datang, menghantam atap tenda, menampar-nampar dindingnya, berderak-derak, menimbulkan rasa mencekam.

Kami semua terdiam, larut dalam doa, memohon, ya Rabb, hentikanlah, lindungi kami, selamatkan kami, maafkan kami, ampunilah kami, kami penuh dosa, datang ke mari memohon ampunan, angin makin terus menggila, bunyinya berdesing-desing, kemudian hujan turun dengan lebat, lampu pun padam, tenda terus berguncang , aku gundah, teringat suami ku di tenda sebelah, teringat keluarga dan semua kenalan di tanah air, ku raih tas paspor ku, ku kalungkan di leher, aku berdiri di depan pintu tenda, menghindari hujan, kalau terjadi kecelakaan, maka identitas ku lengkap, kalian akan cepat mengenaliku dari berita.

Kami terus larut dalam doa, akhirnya badai berhenti, semua jadi tenang, angin diam, tenda pun diam, terima kasih Tuhan, Kau menyayangi kami.

Pagi menjelang, kami bangun, shalat subuh, kemudian ku lihat suami ku di pintu tenda, wajahnya girang melihat ku baik-baik saja, semalam dia sudah juga kemari katanya, tapi tidak bisa mengenali ku dalam lautan baju putih para ibu.

Perjuangan ke dua di mulai, ini adalah antrian di depan toilet, Ya Rabb satu pintu toilet di antri oleh 15 orang, ku mohon padamu Tuhan, jagalah tubuh ku, buat dia jangan sering kemari.

Tuhan mendengar permohonan ku, aku cuma dua kali ke toilet selama dua hari, hanya untuk air kecil.

Dua hari aku tidak makan nasi, hanya bertahan dengan sebutir apel, setiap waktu makan, maaf makanannya tak enak menurut ku, berbau gosong, tapi aku bisa bertahan.

Wukuf pun di mulai, di awali dengan shalat Zuhur dan ashar yang di jamak, kemudian di lanjutkan dengan khutbah wukuf, dan di lanjutkan dengan zikir dan doa, bermuhasabah, mengakui dosa, merasa hina, dan sangat amat kecil di hadapannya.

Dalam lantunan doa, air mata terus mengalir, tanpa henti, Ya, Allah di sini di bawah langit Arafah, ampunilah kami, hari ini Arafah adalah sekeping tanah surga, tanah penuh ampunan, Engkau tidak memaksa datang, kami lah yang memenuhi panggilan Mu, wahai Tuhan yang teramat sangat sempurna, lihatlah kami, mengharap Rahmat dan ampunan, serta kasih sayang mu sepanjang zaman.

Matahari pun tergelincir, wukuf pun selesai, wajah - wajah bahagia berseri-seri, yakin dan percaya, ampunan telah di gapai , nanti malam perjuangan ke tiga menjelang, akan bermalam di Muzdalifah. Aku perlu istirahat sebentar, nanti akan ku ceritakan.