The Story of Putroe Neng Buried in the Strait of Malacca | Kisah Putroe Neng yang Terkubur di Selat Malaka |

in #fiction3 years ago

Before Yupie Tan boarded the ship, she handed her goatskin paper to Putroe Neng. "I am not a poet, Putroe. Over the years, I have learned to write a special poem for Putroe Neng. I'm sure this poem is not good because I never learned from a teacher. But, this poem I write with all my heart, as a form of my love and loyalty to Putroe."

Putroe Neng unrolled the goat skin. But, the letters that appear there look like the froth waves scattered on the shoreline. "Read it for me with all your heart," she handed the goat paper back to Yupie Tan.

Makam Putroe Neng_02@GRASINDO.jpg
Tomb of Putroe Neng in Blang Pulo, Lhokseumawe, Aceh, Indonesia.

Photo by @masriadi

One day in history. Your oceans are reddened like arrows. You are standing above the height of the ship. Gazing at the ground slowly away, and the dream approaching. Towards destiny across the ocean.

This is the admiral from the opposite land. Grows in a storm, matures in war. In a hundred swings. One hundred men stretch at the end of the sword.

Moon glowing jasmine at Panton Bie. Similar gold rugs lie in Seudu Bay. The beauty that never dies. Cause the presence of The Empress. Her beauty made the wind stop. The birds stopped flying. Everything is silent in front of the light The Empress.

Every day soon become memories in Seudu Bay. War after war for the united kingdom. The history of thousands of soldiers stops at the end of the sword.

_But, dreams become the wind in Lamuri. Meurah Johan is captivating. Turn the destiny of The Admiral into The Empress.

The trail of the empress scattered all over the country. It is firmly attached to every heart. Even carried away to death, still stored this longing.

Putroe Neng staggered for a moment as if pervading every word that slid from Yupie Tan's lips. Sheikh Hudam who stood behind her also silent without a word.

"Can you read it again?" Putroe Neng's voice broke the silence.

Yupie Tan read it again.

"Yupie," says Putroe Neng later. "Do not you know I'm unhappy with exaggerated praise?" Putroe Neng asked after Yupie Tan finished his poem in a shaky voice for holding back the churning in the chest.

"I'm sorry, Putroe. I have tried to write the poem as best I can, without feeling in favor. But, my love for Putroe makes me unable to stand in the middle. "

Putroe Neng is touched by Yupie Tan's confession so he can not help hugging Yupie Tan once more. Again the two women were drowning in the cry of newness. Sheikh Sheikh Hudam this time can not hide his feelings. Tears also streamed down her wrinkled cheeks.

Yupie Tan returned to Lamuri by a small boat with a number of bodyguards and students who wanted to continue the struggle in the growing Darud Donya Kingdom to become a true empire of the original ideal.

The journey accompanied by the prayer of Sheikh Hudam and Putroe Neng's blessings never reached Bandar Lamuri by the sailing ship. The storm had hit their ship into ruins. All passengers escaped the storm, including Yupie Tan who was rescued by a santri (student at traditional Muslim school). to the seafront in the former Kingdom of Samaindra. However, Yupie Tan's notes are buried at the base of the Strait of Malacca with the whole story of Putroe Neng's life journey.[]


Makam Putroe Neng_01@GRASINDO.jpg

Bersama Penjaga Makam@GRASINDO.jpg
Mewawancarai penjaga makam. Foto diambil tahun 2010 oleh @masriadi.


Kisah Putroe Neng yang Terkubur di Selat Malaka

Sebelum Yupie Tan naik ke kapal, ia menyerahkan kertas kulit kambing kepada Putroe Neng. “Saya bukan seorang penyair, Putroe. Selama bertahun-tahun, saya sudah belajar menggubah syair khusus untuk Putroe Neng. Saya yakin syair ini tidak bagus karena saya tidak pernah belajar dari seorang guru. Tapi, syair ini saya tulis dengan sepenuh hati, sebagai wujud kecintaan dan kesetiaan saya kepada Putroe.”

Putroe Neng membuka gulungan kulit kambing tersebut. Tapi, huruf-huruf yang tertera di sana terlihat seperti buih-buih gelombang yang berhamburan di tepian pantai. “Bacakanlah untukku dengan sepenuh hati,” ia menyerahkan kembali kertas kulit kambing tersebut kepada Yupie Tan.

Suatu hari dalam sejarah. Samudramu memerah serupa ujung anak panah. Dirimu tegak di atas ketinggian kapal. Menatap darat perlahan menjauh, dan mimpi yang kian mendekat. Menuju takdir di seberang lautan.

Inilah laksamana dari tanah seberang. Tumbuh dalam badai, matang dalam perang. Dalam seratus ayunan. Seratus lelaki meregang di ujung pedang.

Bulan bercahaya melati di Panton Bie. Serupa permadani emas terhampar di Teluk Seudu. Keindahan yang tak pernah mati. Bersebab kehadiran sang maharani. Kecantikannya membuat angin berhenti berembus. Burung-burung pun berhenti terbang. Semuanya diam di depan cahaya maharani.

Hari-hari segera menjadi kenangan di Teluk Seudu. Peperangan demi peperangan bagi kerajaan menyatu. Sejarah ribuan prajurit berhenti di ujung pedang.

Namun, mimpi menjadi angin di Lamuri. Meurah Johan yang menawan hati. Membelokkan takdir maharani menjadi permaisuri.

Jejak maharani tercecer di seluruh negeri. Melekat kuat di setiap hati. Bahkan terbawa sampai mati, tetap tersimpan kerinduan ini.

Putroe Neng tercenung lama seolah meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir Yupie Tan. Syekh Syiah Hudam yang berdiri di belakangnya juga diam tanpa kata.

“Bisakah kamu membacakannya sekali lagi?” terdengar suara Putroe Neng memecah kesunyian.

Yupie Tan membacanya sekali lagi.

“Yupie,” kata Putroe Neng kemudian. “Bukankah kamu tahu aku tidak senang dengan pujian yang berlebihan?” tanya Putroe Neng setelah Yupie Tan menyelesaikan syairnya dengan suara yang bergetar karena menahan gejolak di dalam dada.

“Maafkan saya, Putroe. Saya sudah berusaha menulis syairnya sebaik mungkin, tanpa berpihak secara perasaan. Tapi, kecintaan saya kepada Putroe membuat saya tidak bisa berdiri di tengah.”

Putroe Neng terharu mendengar pengakuan Yupie Tan sehingga dia tak mampu menahan diri untuk tidak memeluk Yupie Tan sekali lagi. Kembali kedua perempuan itu tenggelam dalam tangis keharuan. Syekh Syiah Hudam kali ini tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Air mata juga mengalir membasahi pipinya yang keriput.

Yupie Tan kembali ke Lamuri dengan kapal kecil bersama sejumlah pengawal dan santri yang ingin melanjutkan perjuangan di Kerajaan Darud Donya yang kian berkembang menjadi kerajaan yang darussalam seperti cita-cita semula.

Perjalanan yang diiringi doa restu Syekh Syiah Hudam dan Putroe Neng itu tidak pernah sampai ke Bandar Lamuri dengan kapal layar itu. Hujan badai telah menerjang kapal mereka hingga menjadi puing-puing. Semua penumpangnya lolos dari amukan badai, termasuk Yupie Tan yang berhasil diselamatkan seorang santri sampai ke pinggir laut di bekas wilayah Kerajaan Samaindra. Namun, catatan Yupie Tan terkubur di dasar Selat Malaka bersama seluruh kisah perjalanan hidup Putroe Neng.[]

Catatan: Bagian akhir dari kisah Putroe Neng karya @ayijufridar.


Kaver Putroe Neng@RESENSI.jpg


Badge_@ayi.png


follow_ayijufridar.gif

Sort:  

Wiiih, ternyata pernah masuk Grasindo juga ya. Novel pertama aku juga di Grasindo.

Kereen nih bikin fiksinya yang berasa nyata. Kadang jadi suka mikir, ini nyata, atau mitasi kenyataan jadi fiksi?

Novel pertama Bang Ayi di Grasindo, tahun 2005. Putroe Neng ini novel ketiga. Novel kedua di Universal Nikko dan novel keempat di NauraBooks.

Putroe Neng ini cerita mitos, kok, meski perlu riset sebelum menulis.

waaah, Universal Nikko. Sebenarnya tuh dari kemarin aku mikir, kalo dilihat-lihat Bang Ayi mirip sama Kepsek-nya Universal Nikko, Pak Mayoko Aiko.

Sukses Bang. Semoga segera mengeluarkan buku terbaru.

Dengan Mayoko Aiko memang saudara dekat. Satu Kakek Adam, hehehehe.

Kisah yang menarik dan mendebarkan. Membacanya bukan hanya sekedar membaca tetapi ikut masuk menjadi pemeran dalam kisah ini. Saya bahagia membacanya sekaligus terharu, sekaligus sedih @ayijufidar

Hmm, terima kasih @farrahohahulla. Itu kisah mitos yang cukup dikenal di Aceh, meski makam Putroe Neng memang ada di Lhokseumawe.

Sangat menarik bg @ayijufridar..
Syair ada disebut lamuri... Mantap

putroe neng, semoga kerinduan akan hikayat itu bisa kupahami setiap lembarnya 😢

Sangat bagus sekali untuk di angkat ke cerita visual, suatu saat nanti jika saya bisa di percayakan menjadi sutradara yang mampu. Amiiin

Insya Allah akan terwujud @iqbalshah menjadi sutradara terkenal. Harus diperjuangkan sejak sekarang. Saya juga bermimpi kisah Putroe Neng atau buku yang lain bisa diangkat ke layar lebar.

Ini keren postingnya dan sudah kami upvote yaa.. :-,

Pernah membaca buku putro neng tersebut, tapi belum habis

Bacalah sampai selesai @bidik, agar bisa membidik manfaat dari sebuah buku.

Terimakasih bang @ayijufridar. Dengan senang hati akan saya habiskan.

Steady your posts, knowledgeable, innovative and I like, thank you for sharing

Hebat bang. Ternyata novel. Lain kali, kalau ada meet up. Abang saranin aja yang punya karya membawa karyanya. Mana tahu bisa membantu karya-karya yang telah terbit.

Atau buat program beli karya dengan SBD atau Steem.

Di Steemit kita bisa memperkenalkan dan mempromosikan buku sendiri @andrianhabibi. Karya Steemians bisa dibedah secara online di Steemit.

Iya bang. Saya belum ada nulis buku. Paling cuma opini aja.

Makamnya seperti tak terurus.

Mantap benar ....Cerita yang ingin saya sangat ketahui ..tpi saya penasaran ..awal mula putro neng itu asal dari mana..dengar2 panglima perang cina..tpi tidak tau kebenarannya saya..tolong penjeladannya

Rupanya bg ayi peneliti agoe. Pantesan..hehe

Seksi banget yah perempuan ini, saya selalu membayangkan dia dengan keseksian kepribadian dan tutur bahasanya sehingga perilakunya pun pasti seksi banget.

Karakter Putroe Neng memang luar biasa, Sista @mariska.lubis.

The real story of aceh. Many poeple does not know about this story. Nice [email protected]

Thanks @vatihfrance. Stories of legends like these should be introduced to the younger generation, even should be appointed to the movie so they know the rich history of the nation.