[FIKSI] Empedu Yang Tertelan

in STEEM Literacy2 months ago

IMG_20211123_080442.jpg

Mengenang bukan karena ada dendam, namun mengenang karena masih berbekas karena sayatan tajam.

Aku yang terlihat tegar dan kuat di mata orang malam ini dengan jujur mengaku adalah manusia paling rapuh. Tuhan mungkin memilihku karena aku kuat, padahal aku pernah rapuh hingga tersungkur.

Memiliki orang tua lengkap dan utuh menjadi kebahagian tersendiri bagi setiap anak, namun tidaklah bagiku yang hanya memiliki seorang ayah sedangkan ibu telah meninggal dunia di saat usiaku masih teramat kecil untuk mengukir sebuah kehidupan menyedihkan tanpa ibu.

Dulu pernah terjadi suatu hari dalam hidupku, hari di mana orang-orang yang pada umumnya makan enak atau dalam istilah orang aceh(hari megang). Semua rumah sudah tercium bau wangi dari tumisan kuah daging, sedang aku hanya bisa menangis menatap kedua wajah riang adikku yang menanti makan siang dengan lauk daging pula.

Kemana ayahku saat itu ?

Ayah tetaplah ayah, hanya manusia biasa tidak luput dari khilaf dan dosa. Saat itu adalah tahun ke empat ibu meninggal, sedang ayah baru memulai hidup baru dengan ibu sambung beberapa bulan, kami terabaikan ?

Iya! Mulai saat itu aku selain memikirkan uang dan pelajaran di sekolah juga harus memikirkan isi perut kedua adikku.

Ku lihat senyum yang penuh harap di wajah adikku sehingga membuat aku tidak tega akhirnya aku menggiling bumbu dan menumisnya layaknya memasak daging sapi dan akhirnya makan siang pun tiba kedua adikku saling berebut untuk mengambil lauk yang mereka pikir daging, rupanya cuma bumbu yang aku tumis tiada isinya.

Pecahlah tangisku saat itu hingga kedua adikku pun ikut menangis, "kami tidak apa-apa makan dengan kuah seperti ini asal kakak tidak meninggalkan kami seperti ibu yang pergi menghadap Allah dan juga kakak tidak meninggalkan kami seperti ayah yang memilih ibu tiri",

Ucap adik bungsuku yang saat itu baru kelas tiga sekolah dasar. Tanpa pikir panjang, ku rangkul kedua adikku dengan erat dan kami saling menangis di hari megang.

Aku menulis kisah ini bukan karena ada dendam tetapi sebagai pelajaran untuk diri sendiri,saya sebagai seorang anak tetaplah akan menjadi anak, surgaku tetap di bawah telapak kaki ibu, begitupun dengan ayah jika aku jahat kepadanya tetap aku menjadi anak durhaka.

Seiring waktu, perjalanan yang penuh dengan puing-puing berlalu bukan dengan sendirinya tetapi terlalu banyak puing yang telah aku telan boleh pecah di perut asal tidak pecah di mulut.

TAMAT.

By @midiagam

IMG_20211123_080258.jpg


Coin Marketplace

STEEM 0.30
TRX 0.06
JST 0.040
BTC 35793.52
ETH 2493.65
USDT 1.00
SBD 4.05