Tingkah polah anak-anak

in Indonesia2 months ago

Kriiiing...alarm hp berbunyi. Cepat-cepat saya meraih dan mematikannya kembali. Sudah jam 05:30. Saya bergegas bangun untuk sholat subuh. Selesai solat saya ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Kami terbiasa sarapan dengan nasi. Kalau orang mungkin terbiasa makan dengan kue, mie, lontong atau yang lainnya, tidak dengan kami. Pagi hari tanpa nasi akan membuat perut berangin. Jadi nasi adalah pilihan mutlak kami di pagi hari. Saya bergegas menyiapkan sarapan dan berbagai macam kebutuhan anak-anak untuk berangkat sekolah. Saya tidak ingin mereka terlambat. Terutama abangnya yang sudah kelas tiga, jika terlambat gurunya akan memberi hukuman berdiri di depan kelas. Itu akan membuatnya malu dengan teman-temannya. Sambil menyiapkan sarapan, bolak balik saya mengingatkan anak-anak untuk mandi. Sekali di suruh, mereka tidak akan bergeming sama sekali. Berulang kali saya harus bicara dengan suara agak mengeras supaya mereka mendengar. Kecilkan suara, jangan harap mereka akan menyahut dan bergegas mandi. Yah...begitulah anak-anak, berbuih mulut pun kita harus tetap bicara.

Lega rasanya setelah anak-anak berangkat sekolah. Kegiatan rutinitas di pagi hari yang mendesak dan mesti di buru ya itu tadi, menyiapkan anak-anak untuk berangkat ke sekolah. Nampaknya sepele memang tapi lumayan merepotkan. Jika moodnya lagi baik tidak jadi masalah, tapi jika moodnya sedang turun, ini yang repot. Di awali dari membangunkannya yang sangat sulit, malas mandi, malas berpakaian, malas sarapan, malas pakai sepatu hingga malas pergi kesekolah. Ini yang menjadi tantangan kita sebagai orang tua. Agar emosi kita tetap stabil maka harus pandai-pandai juga membujuk si anak. Marah-marah hanya akan menghabiskan energi. Padahal kita masih membutuhkan banyak energi untuk melakukan pekerjaan lain seharian.

Sudah jam 10.50, waktunya menjemput anak-anak. Jadwal anak pulang sekolah jam 11.00. Jadi masih ada waktu 10 menit lagi untuk saya sampai ke sekolah. Anak-anak sangat tidak suka jika saya menjemputnya terlambat. Pernah sih beberapa kali saya menjemput terlambat. Terkadang karena terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah saya terlupa waktu. Jadi waktu saya jemput mereka langsung pasang muka masam dan ngomel-ngomel. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain meminta ma'af dan menjelaskan kenapa saya sampat terlambat. Pernah juga mereka harus berjalan kaki pulang hingga ke rumah karena saya tidak menjemput di sebabkan sepeda motor rusak. Jika sudah begitu sangat banyak keluhan yang harus saya dengar. " Capeklah, panas, gatal, pegal, pening, sakit kaki dan macam-macam keluhan" Yah...anak-anak jaman now. Semua pinginnya yang mudah-mudah. Sangat berbeda sekali dengan anak jaman dulu. Waktu saya kecil saja, mau pergi sekolah, pergi mengaji " Pergi tidak diantar pulang tidak di jemput". Seperti istilah jailangkung he he..Memang tidak pernah di antar dan di jemput. Jalan kaki berpuluh kilo meter tidak pernah mengeluh. Kalau kita bagi pun pengalaman waktu kecil kita kepada anak-anak jaman sekarang dengan maksud agar mereka tidah mudah mengeluh, percuma. Mereka mendengar cerita kita dan mereka percaya. Tapi jangan harap mereka akan menjelma seperti yang kita harapkan. Jaman sudah berubah...

IMG-20210406-WA0003.jpg

Tiba di sekolah anak-anak sudah menunggu di depan pagar. Untung saya sampai tepat waktu. Jadi bisa langsung pulang dengan aman.
Sesampai dirumah saya lanjutkan pekerjaan saya yang belum selesai, memasak.

IMG-20210406-WA0005.jpg

Hari ini menu masakan saya adalah sayur bayam dan sambal ikan tongkol plus telor dadar untuk anak-anak. Anak-anak tidak begitu suka dengan ikan. Setiap hari menu lauk mereka telor, tidak ada bosannya. Kalau bukan telor dadar ya telor mata sapi, telor rebus. Walaupun sama-sama menyukai telor, cara penyajian keduanya berbeda. Kalau si abang telor dadar yang disukainya hanya memakai garam dan sedikit penyedap masako. Si adek telor dadarnya harus ada irisan bawang merah dan cabe merah. Begitu juga dengan telor mata sapi. Si abang menyukai telor mata sapinya digoreng hingga kecoklatan, sementara adeknya mesti setengah matang. Begitu juga dengan sambal, si abang tidak suka pedas sama sekali, jadi sambalnya harus banyak tomat dan di tambah gula, sementara adeknya suka sambal yang pedas. Yah..saya sempat terfikir juga, kalau begini ceritanya memang lebih bagus punya dua anak saja jadi tidak terlalu pusing saat memasak. Belum lagi ayahnya anak-anak kan...
Setiap keluarga tentu situasinya berbeda-beda. Seperti keluarga kakak saya. Dia cuma masak satu atau dua menu untuk seluruh anggota keluarga. Semua makan menu yang sama. Anak dan cucu-cucunya tidak ada yang mengeluh. Apa yang dimasak itu yang di makan, tidak ada yang protes.
Hujan mulai turun, Alhamdulillah rahmat datang. Pohon dan bunga butuh siraman mendalam, setelah sekian lama mengalami kekeringan. Daun pohon rambutan berubah kecoklatan dan berguguran, tidak berdaya bertahan menahan panas yang berkepanjangan. Rumput di halaman yang hijau mulai menguning.

IMG-20210406-WA0004.jpg

Saya berharap semoga hujan akan terus mengguyur hingga beberapa hari kedepan. Sehingga rumput di halaman hijaunya kembali nampak segar dan sejuk di pandang.Semoga kemarau tidak lagi mencengkeram...