Masa Depan Hive Sebagai Jaringan Blockchain Layer Kedua (Bagian Pertama dan Kedua)

in #indonesia8 months ago

Sebuah terjemahan dari tulisan @blocktrades Hive’s future as a 2nd layer blockchain network, dan sudah mendapatkan ijin untuk usaha penerjemahan ini.


Beberapa orang akhir-akhir ini menanyakan mengenai “visi” untuk jaringan Hive. Bagi saya, pertanyaan itu memiliki dua jawaban.

Secara pribadi, saya ingin menggunakan jaringan network hive sebagai basis untuk berbagi informasi berdasarkan sistem komputasi yang terkini, yang akan saya jelaskan secara mendalam nanti di lain waktu.

Tetapi, saya akan menjawab pertanyaan itu dengan memberikan penjelasan pada jawaban saya yang kedua dan ingin saya bicarakan sekarang: visi saya adalah bertujuan membuat Hive sebagai platform paling atraktif untuk pengembangan inovasi, aplikasi terdesentralisasi.

Pada titik tertentu, beberapa orang akan berpikir, ”Apa? Hive adalah platform media sosial, bukan sebagai platform aplikasi” . Beberapa orang akan mengangguk menyetujui pernyataan itu dan berkata, “Itu yang telah saya katakan selama ini”. Tapi mohon kiranya tetap membaca tulisan ini secara keseluruhan, walaupun Anda termasuk kelompok yang baru bergabung belakangan ini, karena semakin saya memikirkan mengenai pernyataan itu, semakin banyak alasan yang saya temukan mengapa pendekatan Hive sebagai wadah aplikasi terdesentralisasi adalah hal yang lebih baik ketimbang bersaing dengan tekhnologi smart contract yang telah dimplementasikan melalui script interpreters (penerjemah kode komputasi untuk mengeksekusi sebuah program atau kode komputer, keterangan lebih lanjut bisa lihat di Wikipedia pada lama Penerjemah (Komputasi)).

Apa itu Aplikasi Terdesentralisasi (Dapp)?

Langkah pertama, mari kita tetapkan apa itu aplikasi terdesentralisasi dengan memberikan spesifikasi atau arti yang dimaksud dengan sebuah aplikasi yang terdesentralisasi, dan bagaimana implemetasinya. Aplikasi terdesentralisasi yang pertama kali adalah mata uang krypto (cryptocurrencies) itu sendiri, jadi kita akan menggunakannya sebagai contoh.

Filosofi Desentralisasi

Kata desentralisasi sering dilontarkan pada banyak bidang cryptocurrency, dan saya rasa banya orang mengerti arti kata itu dalam level filosofi bahwa cryptocurrency setidak memiliki ciri-ciri:

  1. Adanya aturan ketersediaan atau keterbukaan untuk public, yang tidak dikontrol oleh satu sosok orang, pihak atau golongan.
  2. Tidak memiliki atau mengantungkan pada satu sosok, pihak atau golongan untuk mengetetahui mengenai “kebenaran” dalam hal sejarah catatan dan perimbangan neraca transaksi cryptocurrency.

Akan tetapi banyak orang tidak mengetahui secara pasti bagaimana dua filosofi tersedesentralisasi di atas dapat diimplementasikan dalam level tehnikal. Sayangnya, untuk memahami keseluruhan tulisan post ini, kita seyogyanya menggalinya lebih dalam untuk mengetahuinya secara bagaima hal itu bisa dilakukan.

Penerapan Filosofi Perangkat Lunak Desentralisasi

  1. Penerapan sebuah aturan umum yang tidak dikontrol oleh satu sosok seseorang atau golongan, bisa jadi cukup mudah dilakukan: Anda tinggal membuat perangkat lunak yang melaksanakan aturan-aturan itu dalam aplikasinya (sebagai contoh: perangkat lunak cryptocurrency), kemudian anda publikasikan pada perangkat lunak open-source yang berlisensi terbuka bagi semua orang untuk menggunakan dan bisa merubahnya, jadi setiap orang berhak melakukan validasi atas aturan-aturan yang telah diikuti, perubahan bisa dilakukan jika mereka tidak suka, dan melakukannya dalam aturan-aturan yang secara sukarela telah diterima.
  2. Ini juga tidak terlalu sulit untuk menyediakan data publik yang terpercaya dengan menggunakan beberapa trik yang ada dalam dunia perangkat lunak: Anda membuat sebuah jaringan peer-to-peer dimana data aplikasi secara konstan (langsung) akan dibagikan dan disimpan dalam beberapa lokasi penyimpanan (penyimpanan data secara desentralisasi) dan anda juga menggunakan perhitungan matematika yang disebut hash yang memang sebenarnya didesain untuk mendeteksi korupsi data yang telah ditransfer melalui jaringan computer seperti halnya melakukan deteksi perubahan data yang sengaja dilakukan oleh manusia.

Adalah sangat penting untuk dicatat bahwa kekebalan (atas perubahan data) blockchain tidak akan dapat dicapai tanpa mengetahui aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam menata data blockchain dan “maksud” dari yang dimaksud transaksi itu sendiri. Dalam arti kata lain, untuk melakukan verifikasi atau memastikan sebuah data itu tidak dirubah atau telah diutak-atik, anda perlu juga memiliki perangkat lunak untuk memproses data blockchain, atau sebuah spesifikasi protokol yang menggambarkan proses data di sebuah jaringan blokchain. Memiliki data itu sendiri tidaklah cukup. Ini adalah salah satu alasan mengapa sebuah jaringan blockchain direferensikan untuk dibuat terbuka sebagaimana open-source.

Bagaimana proses transaksi blockchain pada layer pertama?

Typical layer pertama dari blockchain adalah hanya untuk proses evaluasi transaksi-transaksi dan pembuatan blok-blok. Nodes (server-server) dalam jaringan blockchain menerima transaksi-transaksi dari para user, dan saling bersaing dengan menggunakan algoritma yang telah disepakati dalam konsesus (proof of work, proof of stake, dan lain sebagainya) untuk membuat blok selanjutnya dalam blockchain. Untuk membuat blok tersebut, node pembuat blok melakukan tiga hal penting:

  1. Menentukan dengan perintah apa untuk menambahkan transaksi yang telah diterima dalam blok yang telah dibuat.
  2. Mengevaluasi setiap transaksi dan menentukan apakah transaksi itu sendiri adalah valid sesuai dengan aturan blockchain (validasi).
  3. Membuat sebuah “pernyataan informasi” (seperti halnya pembukuan) berdasarkan transaksi-transaksi yang telah divalidasi sehingga informasi tersebut dapat disalurkan dengan menggunakan API untuk diproses selanjutnya (seperti halnya wallet) untuk bagi yang ingin mengetahuinya.

Dua langkah pertama di atas, yang berupa pengurutan atau pengaturan transaksi dan aturan validasi, adalah sangat penting bagi integritas “buku besar” blockchain. Satu contoh mudah yang bisa menggambarkan mengapa hal itu penting adalah masalah “double spend” (penggunaan data ganda, seperti halnya memalsu pembukuan keuangan atau pemalsuan uang). Sebuah potensi double spend dapat terjadi ketika seorang pengguna menggunakan dua catatan transaksi untuk melakukan pembayaran pada dua akun berbeda yang berasal dari satu sumber yang sama, membelanjakan sebagian besar semua uang dari sumber sama itu sendiri. Dengan menentukan penataan transaksi-transaksi, node penghasil blok akan menentukan siapa yang akan mendapatkan uang itu. Dan dengan mengaplikasikan aturan-aturan validasi transaksi blockchain, maka transaksi pertama akan diterima dan transaksi kedua akan ditolak (dan tidak akan dimasukkan dalam pembuatan blok) –bila terjadi transaksi double spend, maka transaksi pertamalah yang akan diterima, bila ada transaksi kedua yang sama atau identik pada sumber yang sama maka akan ditolak transaksi itu dan tidak dicatat pada blok selanjutnya-

Bersambung.....