Puisi Pertama di Graha Bhakti Budaya

in #indonesialast year


Pada November 1996, saya pertama kali ke Jakarta. Dari Aceh, bersama beberapa kawan penyair Aceh lain, naik bus ke Medan, lalu naik taksi ke Pelabuhan Belawan. Kami naik kapal ke Jakarta. Tujuannya satu: memenuhi undangan panitia Mimbar Penyair Abad 21 yang diadakan oleh #DewanKesenianJakarta @jakartscouncil.

Kami diundang berenam, namun hanya empat yang berangkat. Saya, Wiratmadinata, Nurdin Supi, dan Rahmad Sanjaya. Penyair Aceh lain, yang juga diundang, yakni Nurdin F Joes dan Nurgani Asyik (almarhmum) tidak bisa hadir. Acara itu dihadiri sekitar 60 penyair muda dari seluruh Indonesia. Kala itu, DKJ dipimpin oleh Salim Said dan kawan-kawan.

Tiba di Pelabuhan Tanjungpriok, kami naik taksi gelap ke Taman Ismail Marzuki (TIM). Mobilnya bagus, Suzuki Carry warna biru soft yang sangat mulus. Biayanya Rp 15.000. Kami turun di gerbang TIM. Di sana, tak dinyana, sedang nongkorong sejumlah penyair senior, seperti LK Ara, Slamet Sukirnanto (alm), dan lain-lain. Kami pun dijamu ngopi dan makan oleh mereka. Dari sana, kami diajak ke rumah Pak LK Ara.

Itulah pertama kalinya saya ke Jakarta. TIM penuh umbul-umbul Festival November 1996. Mimbar Penyair Abad 21 adalah bagian dari festival novembe itu. Acara diwarnai dengan diskusi hingga baca puisi.

Baca puisi diadakan di Graha Bhakti Budaya. Nah, di situlah pertama kali saya membaca puisi di Jakarta. Di gedung, yang kini sedang dirobohkan untuk #revitalisasiTIM. Saya, tentu saja, sedih. Ada kenangan yang tersimpan lekat-lekat di sana, yang menandai jalan hidup saya kemudian. Baik sebagai penulis sastra maupun sebagai manusia yang terus menekuni skenario Sang Maha...

Tapi saya percaya, tidak ada yang abadi dalam hidup ini. Semua fana. Kita harus tetap bergerak untuk sesuatu yang lebih baik.

SUMBER FOTO:
Facebook @puisi.tanpa.kata

#TIM #story #life #lifestory #mimbarpenyairabad21 #penyairaceh #senimanaceh


Posted from my blog with SteemPress : http://musismail.com/puisi-pertama-di-graha-bhakti-budaya/