Berwisata Sambil Beramal.

in #nature3 years ago (edited)

3.jpg

Menghormati, menghargai, menyayangi orang yang disukai itu adalah hal biasa dan normal – normal saja. So, bagaimana menghormati, meghargai dan menyayangi orang yang tidak anda sukai? Maksud saya tidak suka karena apa yang dia kerjakan. Dan itulah yang saya lakukan setiap saya memiliki kesempatan dan waktu bahkan berdoa untuk mereka.

Profesi mencintai orang – orang yang tidak di sukai sebetulnya sudah lama saya lakoni sejak di bangku kuliah semester 3 dengan berbagai model kasus dan tingkat kerumitan dan kemudahan masing – masing hanya saja saya tidak pernah mempublikasinya di media – media sosial untuk menghindari prilaku/budaya ojom dari orang – orang yang sok jago yang suka berkomentar pada satu hal tanpa mengerti duduk persoalan atau masalah sehingga hanya akan menambah masalah. Saya benar – benar tidak tau dari mana budaya ojom ini berasal sehingga jadi trend kekinian. Ojom yang saya maksud di sini adalah terlalu dini berkomentar negative atau menjustice sesuatu tanpa pernah memahami duduk persoalanya

3.jpg

Yapz.... berhubung kali ini saya sedang berurusan dengan seorang pawang hutan tentu anda sudah bisa membayangkan apa yang dia lakukan. Pawang yang satu ini sebetulnya sudah lama menjadi target utama saya untuk di alihkan profesinya tapi karena waktu dan keadaan plus masih lemahnya financial yang saya miliki membuat saya terkadang harus berhenti lalu melanjutkan lagi ketika saya memiliki kesempatan. Maaf lemahnya financial yang saya miliki di sini bukan berarti saya ingin minta sedekah, saya lebih memilih bekerja sendiri dan tidak bergantung kepada lembaga mana pun sehingga saya bebas mengatur strategi pendekatan sendiri kepada setiap target yang ingin saya dekati.

4.jpg

kolam batu kembar alami di tengah hutan buatan Tuhan

Kembali ke persoalan, pawang yang saya dekati kali ini bagi saya termasuk pawang kelas kakap karena bukan hanya ikan yang bisa dia tangkap tapi hewan buas pun sekali pukul langsung nyungsep dia buat tanpa ampun tapi Alhamdulillah kelasnya sudah menurun karena dia tidak lagi berburu hewan buas. Saya mendekatinya secara pertemanan dan kekeluargaan sehingga saya bebas dengan leluasa mendapatkan informasi baik persoalan pribadinya maupun persoalan profesinya. Tak jarang saya menghabiskan waktu untuk sekedar omong kosong demi bisa dekat. Informasi pertama yang harus di dapat adalah latarbelakang pribadi dan keluarganya karena titik persoalan biasanya berawal dari sana, baru kita bisa mengerti bagaimana berurusan denganya. Selanjutnya dengan sendirinya kita juga akan paham ide apa yang harus kita berikan. Saya juga sering menemaninya setiap ada waktu meski sekedar ngobrol omong kosong sembari memasukan pemikiran - pemikiran.

Nah suatu hari tibalah waktunya dia mengajak saya ke hutan, wah dalam hati saya ini adalah kesempatan berwisata ke hutan, dari dialah saya mendapatkan informasi tempat – tempat menarik untuk di kunjungi di tengah hutan. Tapi sayang sekali saya tidak memiliki perlengkapan yang memadai sehingga tidak terekam dengan baik. Pada hari itu dia mengajak saya untuk berburu burung, sebuah pekerjaan yang sangat bertentang dengan hati nurani saya, di situ juga saya melihat kerumunan burung liar yang jumlahnya tak terhitung, pada hari itu dia hanya menangkap 10 ekor burung. Saya pun pura – pura bahagia meski dalam hati merasa sedih.

Mata dan hati saya hanya tertuju pada lingkungan sekitar serta melihat potensi yang di miliki kawasan tersebut serta terus berpikir dan berpikir ide apa yang harus di berikan. Sembari berjalan pulang sambil ngobrol saya coba menawarkan ide – ide kepada si pemburu ini, saya memintanya untuk mengklim wilayah burung liar tersebut tapi tidak menebang kawasan hutan, tidak lagi mengganggu burung liarnya dan menjadikanya sebagai salah satu destinasi wisata baru. Dia pun mulai berpikir dan mendiskusikanya dengan temanya. Saya pun memberikan contoh – contoh dalam bentuk video dan gambar. Saya tau tidak mudah bagi dia untuk paham karena latarbelakang pendidikan dan pengalamanya yang rendah tapi saya akan tetap terus mendorongnya apalagi dengan kondisinya seperti setengah putus asa tapi masih sulit secara ekonomi padahal menurutnya segala usaha telah ia lakukan, sempat terlintas di pikiranya menjual seluruh kebunya dan pindah ke daerah lain tapi saya melarangnya dengan memberikan pertimbangan – pertimbangan. Saya benar – benar berharap kepada Allah Swt semoga si pemburu yang satu ini suatu hari bisa beralih profesi meski masih berurusan dengan hutan dan hewan liar tapi caranya sudah berubah, solusi satu – satunya yang masih saya dapatkan adalah dengan mengalihkanya ke dunia wisata.

1.jpg

Pada saat kembali ke rumah di pertengahan jalan kami bertemu dengan seorang mantan pemburu harimau, hati saya sangat senang karena dia telah menjadi mantan yang sekarang menjadi peternak sapi, si mantan pemburu yang satu ini orangnya agak lucu dan wajahnya pun memang lucu. Jika di lihat face dan perawakanya tidak masuk akal dia bisa mengalahkan seeokor kucing hutan tapi itu lah yang dia lakukan. Kami pun cerita panjang lebar. Seminggu sebelum kami bertemu dia sempat bilang kalau sapi – sapinya di datangi seekor harimau tapi dia tidak membunuhnya hanya menyuruhnya pergi, nampaknya si harimau paham berurusan dengan siapa dan si kucing hutan itu pun memilih pergi dan mengalah. Karena dia sekarang telah menjadi peternak maka saya pun memberikan contoh – contoh pengelolaan ternak secara intensive di daerah lain, dia pun sangat tertarik dengan apa yang saya berikan, kemungkinan dalam beberapa bulan ke depan akan dia praktekan, salah satunya adalah management pakan ternak.

Kalau di ceritakan sebetulnya masih panjang tapi kali ini cukup sampai di sini saja dulu ya, karena saya juga ingin kembali ke kebun. Oh ya saya minta maaf jika postingan kalian terkadang lama saya buka karena akses internet di kebun saya susah. Terimakasih.