Democracy and Disillusionment [Bilingual Book Reviews]

in #reviews2 months ago (edited)

Book Reviews
Book Title: Democracy and Disillusionment
Author: Goenawan Mohamad, et al.
Editors: Ihsan Ali-Fauzi and Samsu Rizal Panggabean
Publisher: Center for the Study of Religion and Democracy (PUSAD),

DEMOCRACY AND STRUGGLE

“All the ills of democracy can be cured by more democracy.”
--Al Smith

There are so many weaknesses of democracy that have been recorded in history: from the "tyranny of the majority" which took its toll on a master thinker like Socrates in antiquity, to blunders of "public will" that eventually gave rise to a heinous dictator like Hitler in modern times.

And one of the other prominent 'weaknesses' that seem inherent in the system now accepted by the majority of countries in the world is its tendency to submit to the curse of the "bell curve": the lion's share of the general vote / will, which normally does not want radical change, which is extreme. This "bell curve" generally means stagnation, support for the status quo.

The tendency of democracy to continue to submit to the curse of the "bell curve" is the main theme of debate in this book.

Goenawan Mohamad (GM), in his writing entitled "Democracy and Disillusionment" - derived from a scientific oration he delivered at the Nurcholish Madjid Memorial Lecture, 23 October 2008, and then provoked responses from six other authors (R. William Liddle, Rocky Gerung , Samsu Rizal Panggabean, Dodi Ambardi, Robertus Robet, Ihsan Ali-Fauzi), which was finally published in this book - show that the law of the "bell curve" has made democracy stop as merely a procedure, a format, which in turn will make struggle a struggle. politics to achieve equality, justice: “. . . the vast majority of people do not want "extreme" change. Statistics show that there is a mutual tendency not to choose things that are shaky. Statistics are the status quo ”(p. 7).

Democracy as a mere format has generated deep disappointment, not only from GM, but also from other great writers of the caliber of José Saramago (who called democracy "a representation of absurd comedy, a shame"), or Jean Baudrillard (who considered liberal democracy as "Western societal menopause").
But why is democracy as a format, as a procedure, so disappointing?

GM points out that as a format, democracy often stops the political process by basing itself on a majority vote or a consensus. With this pattern what is deemed deviant, what is obscene — which cannot be accommodated and cannot be represented by majority vote or consensus which then manifests in the existing political body — is eliminated. Thus, democracy appears to be something that does not wish to open itself up to new alternatives. Democracy has "killed politics," and "replaced it with consensus."

And the "politics" that "killed" is politics as a process of struggle for equality, not politics as an exchange of power and influence as occurs through general elections and legislative negotiations. In fact, in a social body, in any society, "the demand for equality - in a broader sense: justice - is a demand that never ends." (p. 12) This demand, as a "Politics," is born of what the existing system does not want to see, the existing consensus. He was born from the obscene, from the turah from the representation, he was the echo of the Sang Antah (le Réel; the Real) which could not be accommodated in the social body that emerged through this consensus.

So how do we address the main weakness of this seemingly inevitable liberal democracy, a weakness that often creates disappointment in this system, especially among the marginalized, those who are not included in the "bell curve"? Should we leave democracy because we think that democracy is in the end just a form, a procedure, only?
Like all the other writers in this book, GM, at the end of his writing, did not necessarily deny democracy, because the alternatives are anarchism or Al-Qaeda terrorism. All writers in this book basically agree that the solution is in accordance with the words of Al Smith (1873 - 1944) quoted at the beginning of this paper, although with different means / ways. They basically agreed to continually return to democracy as "Politics," in the sense of struggling to achieve equality and justice, "either through legislation or against legislation, either through parties or against parties."

========

[BAHASA INDONESIA]

Resensi Buku
Judul : Demokrasi dan Kekecewaan
Penulis : Goenawan Mohamad, dkk.
Penyunting : Ihsan Ali-Fauzi dan Samsu Rizal Panggabean
Penerbit : Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD),

DEMOKRASI DAN PERJUANGAN

All the ills of democracy can be cured by more democracy.
--Al Smith

Begitu banyak kelemahan demokrasi yang telah tercatat dalam sejarah: mulai dari “tirani mayoritas” yang memakan korban seorang pemikir ulung seperti Socrates di zaman antik, hingga blunder “kehendak umum” yang akhirnya memunculkan seorang diktator keji seperti Hitler di zaman modern.

Dan salah satu ‘kelemahan’ menonjol yang lain yang tampaknya inheren dalam sistem yang sekarang diterima mayoritas negara di dunia ini adalah kecenderungannya untuk tunduk pada kutukan “kurva lonceng”: porsi terbesar dari suara/kehendak umum, yang lazimnya tidak menginginkan perubahan yang radikal, yang ekstrem. “Kurva lonceng” ini umumnya berarti stagnasi, dukungan kepada status quo.

Kecenderungan demokrasi untuk terus tunduk pada kutukan “kurva lonceng” inilah yang menjadi tema pokok perdebatan dalam buku ini.

Goenawan Mohamad (GM), dalam tulisannya berjudul “Demokrasi dan Kekecewaan”— yang berasal dari orasi ilmiah yang ia sampaikan dalam acara Nurcholish Madjid Memorial Lecture, 23 Oktober 2008, dan kemudian memancing tanggapan dari enam penulis lain (R. William Liddle, Rocky Gerung, Samsu Rizal Panggabean, Dodi Ambardi, Robertus Robet, Ihsan Ali-Fauzi), yang akhirnya diterbitkan menjadi buku ini—memperlihatkan bahwa hukum “kurva lonceng” tersebut telah menjadikan demokrasi berhenti sekadar sebagai sebuah prosedur, sebuah format, yang pada akhirnya akan memajalkan perjuangan politik untuk mencapai kesetaraan, keadilan: “ . . . sebagian besar orang tidak menghendaki perubahan yang ‘ekstrem’. Statistik menunjukkan ada semacam tendensi bersama untuk tak memilih hal yang mengguncang-guncang. Statistik itu status quo” (hlm. 7).

Demokrasi sekadar sebagai sebuah format inilah yang memunculkan kekecewaan mendalam, bukan hanya dari GM, melainkan juga dari para penulis besar lain sekaliber José Saramago (yang menyebut demokrasi “telah jadi representasi komedi absurd, yang memalukan”), atau Jean Baudrillard (yang menganggap demokrasi liberal sebagai “menopause masyarakat Barat”).

Tapi mengapa demokrasi sebagai sebuah format, sebagai sebuah prosedur, begitu mengecewakan?

GM menunjukkan bahwa sebagai sebuah format, demokrasi acapkali menghentikan proses politik dengan mendasarkan diri pada sebuah suara terbanyak atau sebuah konsensus. Dengan pola ini apa yang dianggap menyimpang, apa yang-obscene—yang tak tertampung dan tak dapat diwakili oleh suara terbanyak atau konsensus yang kemudian mewujud dalam tubuh politik yang ada—disingkirkan. Dengan demikian, demokrasi tampak sebagai sesuatu yang tak hendak membuka diri pada alternatif-alternatif yang baru. Demokrasi telah “membunuh Politik,” dan “menggantikannya dengan konsensus.”

Dan “Politik” yang “dibunuh” itu adalah politik sebagai sebuah proses perjuangan menuju kesetaraan, bukan politik sebagai saling tukar kekuasaan dan pengaruh sebagaimana yang terjadi melalui pemilihan umum dan negosiasi legislatif. Padahal, dalam sebuah tubuh sosial, dalam sebuah masyarakat mana pun, “tuntutan akan kesetaraan—dalam pengertian yang lebih luas: keadilan—adalah tuntutan yang tak akan pernah habis.” (hlm. 12) Tuntutan ini, sebagai sebuah “Politik,” lahir dari apa yang tak hendak dilihat oleh sistem yang ada, konsensus yang ada. Ia lahir dari yang-obscene, dari yang turah dari representasi, ia adalah gaung Sang Antah (le Réel; the Real) yang tak tertampung dalam tubuh sosial yang muncul lewat konsensus tersebut.

Lantas bagaimana kita menyikapi kelemahan utama demokrasi liberal yang tampaknya tak terelakkan ini, sebuah kelemahan yang seringkali menimbulkan kekecewaan terhadap sistem ini, terutama dari kalangan marginal, kalangan yang tak termasuk dalam “kurva lonceng” itu? Haruskah kita meninggalkan demokrasi karena menganggap bahwa demokrasi pada akhirnya hanyalah format, prosedur, belaka?

Sebagaimana semua penulis lain yang ada dalam buku ini, GM, di akhir tulisannya, tak serta-merta menampik demokrasi, karena alternatifnya adalah anarkisme atau terorisme Al-Qaedah. Semua penulis yang ada dalam buku ini pada dasarnya sepakat bahwa solusinya sesuai dengan ucapan Al Smith (1873 - 1944) yang dikutip di awal tulisan ini, meski dengan sarana/cara yang berbeda. Mereka pada dasarnya sepakat untuk terus-menerus mengembalikan demokrasi sebagai ‘Politik,’ dalam arti perjuangan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan, “baik melalui perundang-undangan atau justru melawan perundang-undangan, baik melalui partai atau melawan partai.”

@ZR—2021

DEMOKRASI DAN KEKECEWAAN.jpg
Image source: http://aliahsan27.blogspot.com/