Pertengkaran Dua Orang Pandir (Analogi Perseteruan Steemit dan Hive)

in #zzan11 months ago


Sumber foto: Pixabay.com

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana

Bimbo dan Bimbi adalah dua orang pemuda yang tergolong sukses dalam usaha media massa. Mereka adalah rekanan sekaligus pemilik sebuah buletin yang bertemakan gaya hidup dan ulasan berita aktual. Nama buletin tersebut bernama Trendi, yang terbit setiap bulan sekali dan oplah cetaknya cukup besar mencapai lima juta exemplar untuk setiap kali cetak. Para pembacanya yang loyal pun cukup banyak dan deretan pemasang iklan juga antri untuk dapat dimuat dalam buletin itu. Selain itu versi media web buletin itu juga banyak mendapatkan rating tinggi menurut Alexa.Com, rata-rata ada lebih dari sepuluh juta pengunjung webnya setiap bulannya. Cukup bagus untuk ukuran buletin kelas regional dengan oplah exemplar dan rata-rata kunjungan di webnya sebanyak itu.

Selang empat tahun sejak pendirian buletin itu, Bimbo memutuskan pensiun dan menjual saham kepemilikannya kepada Gimbo. Seorang flamboyan kaya yang terkenal banyak duitnya, juga dikenal sebagai salah satu taipan dalam bidang media massa. Tapi sayang dia juga kurang disukai oleh pengusaha media massa lainnya karena konon dia dikenal dengan reputasinya yang suka turut campur dalam masalah orang lain.

Bimbi yang mengetahui penjualan saham itu menjadi marah dan ngambek pada Bimbo, selain itu dia memang sejak dulu memang tidak suka dengan Gimbo karena reputasinya yang kurang sedap di kalangan pengusaha media massa. Cepat tapi pasti, Gimbo segera melakukan manuver dan melakukan rapat 'darurat' redaksi untuk memperkenalkan diri dan menganti arah kebijakan keredaksian, tapi apa nyana yang terjadi bukanlah rapat redaksi. Yang terjadi adalah malah caci maki antara Gimbo dan Bimbi.

Bimbi marah karena meminta agar Gimbo tidak ikut-ikutan masalah redaksi. Karena dahulu telah ada kesepakatan tidak tertulis antara Bimbo dan Bimbi, bahwa urusan redaksional akan tetap berada dalam wewenang Bimbi. Ia meminta agar Gimbo tetap berada pada koridor tugas diluar keredaksian, seperti masalah manajemen karyawan, pemasaran dan keuangan. Akan tetapi Gimbo, tidak mau tahu kesepakatan terdahulu antara Bimbi dan Bimbo. Gimbo tetap ingin agar ia dilibatkan dalam wewenang keredaksian, alhasil tidak ada titik temu antara kedua orang ini.

"Bangsat lu, Gimbo!" umpat Bimbi pada saat rapat redaksi itu.

"Lu kalau nggak suka cara gue, lu keluar aja dari perusahaan ini," Gimbo menjulurkan jari telunjuknya pada Bimbi sambil melotot.

"Oke, gue keluar dari perusahaan ini dan jual saham gue," Bimbi marah, keluar ruangan sambil membanting agenda rapat yang ada di meja.

Selang satu bulan kemudian Bimbi mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak dibidang yang sama dan diberi nama Beken. Perseteruan antara Gimbo dan Bimbi ternyata masih berlanjut, malahan mereka menulis sebuah tajuk redaksi di halaman pertama buletin mereka masing-masing. Isi tajuk redaksi tersebut saling kritik dan sindir antara Gimbo dan Bimbir, masing-masing menuliskan keburukan lawannya pada tajuk redaksi di media massa mereka sendiri.

Lambat laun, beberapa konten isi buletin Trendi dan Beken mulai berisi pembahasan dan tulisan yang saling mengkritik. Bahkan kolom pembaca menulis yang ada di media mereka juga berisi ungkapan-ungkapan saling sindir antar pendukungnya. Para pelanggannya yang dulu didominasi oleh para pembaca cerdas dan kritis, akhirnya mulai berhenti berlangganan dan jarang melihat laman web kedua media buletin itu karena kontennya sudah kurang menarik dibaca. Para pemasang iklan pun mulai ikut berkurang dan enggan memasang iklan di sana, akhirnya pemasukan pun berkurang.

Sebuah Catatan

Analogi cerita ini, adalah gambaran yang terjadi di komunitas Steem dan Hive. Dua komunitas blogging berbasis blockchain, dulu dua komunitas ini masih tergabung dalam satu sistem blokchain yaitu Steem. Akan tetapi setelah ada perseteruan antara para 'petinggi' (witness) dan para pengembang piranti lunaknya, akhirnya beberapa di antara mereka memisahkan diri dari Steeem mendirikan sistem blockchain baru yang diberi nama Hive.

Permasalahan yang terjadi adalah kedua pihak ini masih saling mengkritik dan sindir melalui media blockchain mereka masing-masing. Alih-alih bukannya malah berkonsentrasi untuk mengembangkan blockchainnya masing-masing, malahan masih saling mengharapkan agar lawan mereka hancur dan komunitasnya bubar. Hasilnya adalah masing-masing pihak saling mengharapkan agar koin yang dihasilkan oleh sistem blockchain lawannya menjadi jatuh nilainya.

Ini adalah suatu preseden yang kurang baik, seharusnya mereka menghentikan tindakan saling menyindir dan menjelekkan lawannya kemudian berkonsentrasi untuk mengembangkan komunitasnya. Serta memberikan manfaat yang baik bagi para pemakainya sehingga bisa mendapatkan dukungan yang lebih banyak dan menjadikan komunitas mereka sebagai sarana media blogging, vlogging, dan bermain game dengan nyaman. Selain itu agar tetap pada koridor tujuan utama didirikan sistim blockchain berbasis blogging bersama ini, bisa menjadikan para pemakainya lebih sejahtera. (hpx)

Sort:  

Nice story, thanks for sharing!!

@puncakbukit sudah upvote dan resteem ke ribuan follower yaa.. =] Trim's telah memvoting @puncakbukit sebagai witness dan kurator anda.